Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Imprealisme Jasa

Radhar Panca Dahana

Beberapa tahun belakangan , saya harus menahan diri untuk mengekspresikan rasa kesal pada satu hal ini: ongkos parkir. Sejak parkir umum yang semestinya menjadi konsekuensi logis toko/pusat perbelanjaan/hotel/perkantoran/rumah sakit sebagai pelayanan atau kemudahan lumrah bagi para konsumen atau tamunya , diambil alih perusahan jasa perparkiran , hal yang semula gratis secara masuk akal menjadi sangat mahal secara tidak wajar.

Beberapa perkantoran atau sentra perbelanjaan , memasang tarif sekali masuk Rp 5.000 dan biaya Rp 4.000/jam , sehingga hanya untuk negosiasi bisnis atau belanja sekitar 3 jam , kita harus membayar tak kurang dari Rp 17.000. Jumlah yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang , tetapi secara akumulatif nilainya mencengangkan. Hanya dengan lapak sekitar 6 meter persegi beralas konblok , aspal , semen atau lainnya , para pengusaha jasa mendapat pemasukan tidak kurang Rp 1 ,5 juta/bulan (dalam hitungan rata-rata hanya 12 jam sewa per harinya). Pemasukan itu (atau Rp 18 juta/tahun) , tentu setara sebuah rumah kontrakan tipe 54/92 yang cukup glamor , atau kos/kontrakan/apartemen sangat glamor , dengan luas tanah jauh lebih lapang , dengan bangunan manis dan kemudahan lain. Dengan perhitungan apa yang , perusahaan jasa parkir mendapatkan penghasilan begitu menakjubkan , dengan modal sekadar palang dan pos kecil dengan seorang petugas?

Tak lain semua itu mungkin hanya alasannya yaitu satu bentuk perdagangan yang menggila tiga dekade belakangan: jasa. Inilah bentuk perdagangan kedua , sesudah manufaktur , yang paling pesat pertumbuhannya , sekaligus paling telengas dalam mengisap dompet konsumennya. Dalam esensinya yang memperlihatkan kenyamanan , kemegahan , rasa , gengsi , dan hal-hal ajaib lain , bisnis jasa hampir tak punya ukuran atau standar untuk harga. Semua berlangsung ajaib , ditentukan setidaknya seberapa jauh konsumen terilusi atau tertipu imaji atau simulacra ilusif yang ditawarkan pedagang jasa.

Katakanlah , secangkir kopi atau soto betawi yang dengan gampang kita temukan di banyak sekali kedai kaki lima , tiba-tiba melonjak sampai lebih 2.000 persen ketika ia kita beli di sebuah restoran atau mal yang megah dan ber-AC kuat. Begitu pun dengan jasa yang ditambahkan (sebagai nilai tambah) pada barang-barang manufaktur , menyerupai busana , peralatan rumah tangga , sampai gawai. Yang terlebih menyakitkan ia terjadi dengan semena-mena pada industri jasa yang sangat fundamental , menyerupai rumah sakit dan forum pendidikan , ketika sewa ruang kelas 1 atau VIP di sebuah rumah sakit , contohnya , lebih mahal dari tarif kamar berkelas sama di hotel berbintang empat , tetapi dengan fitur dan kemudahan yang jauh lebih minim.

Kemahalan yang sama harus dibayar pasien (yang sudah menderita alasannya yaitu penyakitnya) untuk kunjungan dokter yang sama , teknologi sama , waktu konsul yang sama dengan beberapa kelas di bawahnya.

Represif

Jasa , sekarang benar-benar tidak hanya memberi laba nauzubillah bagi para pedagangnya , tetapi secara kontradiktif memberi bukan melulu beban , tetapi semacam siksaan kepada konsumennya yang lebih kerap tidak berdaya. Seperti kita di bandara , tempat wisata , kafetaria , resto , hotel , atau banyak sekali ruang langsung lainnya , harus menemukan harga barang-barang biasa dengan harga yang luar biasa alasannya yaitu berlipat-lipat nilainya. Semua itu terasa represif alasannya yaitu kita tidak bisa menawar , melawan , dan terlindungi oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang untuk itu. Kita menyerupai terimperialisasi oleh satu hal yang sangat ajaib , namun faktual dampak praktisnya: jasa.

Akan tetapi , dari semua ilustrasi kecil itu , hal paling menyakitkan dan terasa menjajah kesadaran kita yaitu denah kredit atau leasing yang selama ini menjadi acuan bahkan modus masyarakat mewujudkan impian atau mimpi modern (hedonistik)-nya. Tanpa sanggup kita menawar sedikit pun , atau bahkan hampir menyerupai fait accompli , kita harus menemukan ketentuan kredit/leasing itu , di mana dijebak hukum utang yang sangat merugikan , lain kata sangat menguntungkan pemberi kredit.

Sudah umum diketahui , cicilan yang kita bayar untuk pembelian kredit rumah , kendaraan bermotor , gawai , sampai perjalanan wisata bahkan umrah , hampir 90 persen untuk pembayaran bunga pada setengah periode awal masa kreditnya. Sehingga ketika kita ingin melunasi kredit di pertengahan masa , kita menemukan jumlah utang pokok masih menggunung , lebih dari 80 persen. Betapa licin , cerdik , tetapi juga culas dan memeras denah kredit yang tidak adil menyerupai ini. Betapa besar jumlah laba yang diraup secara tidak adil oleh forum keuangan pemberi kredit yang mendapat pelunasan di tengah jalan. Betapa culasnya , ketika kita sudah membayar hampir lunas bunga kredit ketika masa pelunasan masih cukup panjang untuk diakhiri.

Bank , sebagai forum keuangan pemberi kredit utama , termasuk bank pemerintah yang memakai uang rakyat sebagai modalnya , memakai denah yang sama untuk bisnis jasa yang mengerikan ini. Bahkan bank-bank pemerintah pun , menyerupai swasta tentunya , membuat tarif yang mokal-mokal dengan memasang tarif untuk beberapa transaksi , menyerupai cek saldo , transfer elektronik , bahkan sekadar untuk cek saldo sampai setoran. Bayangkan , jikalau hanya untuk cek saldo kita ditagih Rp 6.500 , maka bila hanya 25 persen dari 100 juta nasabah sebuah bank besar melaksanakan cek saldo dalam sehari , bank mendapat pemasukan tak kurang dari Rp 162 ,5 miliar/hari.

Hanya dalam sehari , hanya untuk cek saldo. Hitunglah per bulan atau tahun , juga untuk semua bentuk transaksi. Hampir tanpa biaya signifikan dengan tarif itu yang harus bank keluarkan , alasannya yaitu semua hanya memakai gelombang elektromagnetik yang notabene milik publik. Apa yang sedang terjadi? Mengapa perdagangan atau ekonomi (pos)modern berbasis teknologi ini begitu berpengaruh menjerat , sampai kesadaran terdalam kita. Lalu kita menerimanya sebagai satu hal yang given. Mana lebih dahsyat imperialisme mutakhir dengan bentuknya yang sama di masa lalu?

Dehumanisasi konsumen

Kapitalisme dengan model terkejamnya , pasar bebas , memang harus diakui melaksanakan semacam represi yang mendehumanisasi konsumen , menyebabkan insan hanya sebagai sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu pundi-pundi triliunan rupiah maupun dollar dari para pemilik modal besar , bahkan pemerintah pun mengikutinya dengan cara telengas (Anda tahu , kan , telepon atau listrik Anda akan segera diputus hanya keterlambatan pembayaran dalam hitungan hari?). Semua itu hanya memakai perangkat paling ampuh dan ajaib dari ekonomi kapitalistik ini: harga. Khususnya di genre perdagangan mutakhirnya: jasa.

Jasa sebagai perdagangan mutakhir mungkin bisa disebut sebagai level lanjutan dari perdagangan berbasis pertanian (agrikultur) di masa pramodern dan industri manufaktur di masa modern. Sejak masa kemudian bisnis memang sudah ada , bahkan untuk perbankan di Tiongkok sudah semenjak paruh awal milenium kedua , dan dalam pengertian modern (warkat antara lain) semenjak usai Perang Salib kurun ke-12 , ditemukan dan dijalankan para Ksatria Templar bagi para peziarah ke kota suci Jerusalem.

Namun , sebagai jenis perdagangan utama dunia , jasa gres mulai diakui secara formal semenjak awal 80-an , ketika Amerika Serikat (bersama negara-negara satelit ekonominya , menyerupai Kanada , Korea Selatan , Jepang , Australia , dan Singapura) dengan intensif dan teguh memaksakan jenis perdagangan itu ke dalam hukum perdagangan global WTO. Sejak ketika itu , nilai perdagangan jasa yang sangat minor sebelumnya , tak lebih dari 10 persen ketimbang agrikultur dan manufaktur meningkat dengan sangat cepat. Jika dua pendahulunya membutuhkan ribuan tahun dan ratusan tahun , jasa hanya membutuhkan sedikit dekade.

Bisa dibayangkan di wilayah di mana perdagangan tradisional masih mayoritas , menyerupai Sub-Sahara Afrika , pada 2005 perdagangan jasa sudah mengambil porsi 47 persen dari kapasitas ekonomi daerah itu , sementara agrikultur hanya 16 persen dan manufaktur 37 persen. Bahkan data WTO mutakhir memperlihatkan angka mencengangkan perdagangan jasa mengambil porsi lebih dari 50 persen total perdagangan dunia , melibatkan sepertiga tenaga kerja profesional , dan menguasai dua pertiga pendapatan global.

Kita semua mafhum , ke mana laba terbesar terkumpul , tidak lain pada para pemilik modal besar yang menguasai jasus komoditas jasa , mulai dari hotel , resto , penerbangan , turisme , pendidikan , transportasi , hiburan , sampai pelacuran , alkohol , dan perjudian. Keuntungan berlipat itu berbanding terbalik dengan kesejahteraan konsumen , khususnya rakyat kelas bawah , yang menderita kemiskinan diktatorial alasannya yaitu terisap pendapatan minusnya untuk jasa-jasa yang mereka juga—secara alamiah—ingin nikmati juga (tentu alasannya yaitu rayuan maut advertensi dan gaya hidup kelas atas/menengah).

Sampai bila situasi ini? Bisakah ia berakhir? Mohon ampun , saya akan menyatakan dengan tegas: ia tak akan berakhir. Artinya? Jelas , pengisapan yang imperialistik ini akan terus berlanjut , sampai rakyat kebanyakan—tidak hanya yang ada di Sorong atau Tulungagung , tetapi juga Leningrad , Paris , dan New Delhi—benar-benar kempis kantong ekonomi bahkan impian kesejahteraannya. Hingga pada masa di mana , kita , rakyat kebanyakan , tinggal menjadi budak-budak industri yang penghasilan dari keringat , air mata bahkan darahnya habis dengan cepat hanya untuk mengonsumsi hasil industri yang ia buat sendiri.

Maka , sebagian dari kita bekerja jauh lebih keras , jauh lebih keras sampai lupa dengan tanggung jawab keluarga atau sosial di sekitarnya , hanya untuk menambal kekurangan-kekurangan pokok hidupnya , alasannya yaitu penghasilannya melalui apa yang sebut false consciousness diisap kenikmatan-kenikmatan jasa. Kita akan kerja lembur terus , akan cari sampingan terus , dan bila semua kemungkinan penghasilan alternatif itu menyempit , kita pun menengok alternatif lain , yang ilegal bahkan kriminal.

Tidak mengherankan , bukan saja korupsi dan manipulasi merajalela , praktik dagang licik dan penuh tipu terjadi , tetapi juga kejahatan—yang mematikan—terjadi hanya untuk uang tak seberapa. Sebagian lagi melacurkan diri , alasannya yaitu tinggal milik itu yang kita punya. Dan betapa mengiris hati , ketika remaja-remaja belasan tahun sekarang menjual dirinya , lewat media-media sosial , dengan banyak sekali proposal yang mengiris-iris harga diri.

Apakah tidak ada yang tersentuh dengan fenomena gila menyerupai ini? Di mana mereka kaum elite yang mendapatkan limpahan berkah dan amanah dari kita , khalayak? Tidakkah mata dan hati mereka tidak lagi menangis? Atau justru karam sebagai bab atau mafia dari peradaban dagang menyerupai itu? Sadar atau tak sadar mengimperialisasi rakyatnya sendiri , khalayak yang telah memberinya kemuliaan? Di mana pemerintah? Padahal , di sementara lain , bangsa ini yang sangat populer dengan kebudayaan , kesenian , dan kekuatan kreatifnya , malah tidak bisa mengambil laba dari bisnis jasa yang sebetulnya justru menjadi kekuatannya? Saya tidak ingin lagi berdoa , untuk kesadaran mereka—kaum elite—misalnya. Saya menuntut dengan keras: jangan biarkan , bahkan sekali-sekali jangan pernah menjadi komprador untuk menghancurkan bangsa ini dengan denah perdagangan menyerupai di atas. Menghancurkan masa depan anak cucu kita. Menghancurkan peradaban kita yang mulia.

Radhar Panca Dahana; Budayawan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Imprealisme Jasa"

Total Pageviews