Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Kain Dan Abil

Trias Kuncahyono

Ini cerita ihwal belum dewasa Adam dan Hawa. Alkisah , pada suatu hari , Kain mencari cara untuk membunuh adiknya , Abil. Ia merasa sakit hati alasannya yaitu korban bakarannya tidak diterima Hyang Jagad Nata. Sebaliknya , asap korban bakaran Abil membubung tinggi mengangkasa , menembus langit hingga ke hadapan-Nya.

Iri dan sakit hati menguasai Kain. Ia benci pada Abil. Ia tidak mau hal itu terulang lagi. Untuk mencegah semoga hal itu tidak berulang , hanya ada satu cara: Abil dihabisi. Maka , terjadilah apa yang diinginkan Kain. Ia membunuh Abil , adiknya.

Kain mengubur Abil di sebuah goa di puncak bukit bersahabat dengan parbatasan Suriah , Lebanon , dan Israel sekarang. Puncak bukit itu berada di Dataran Tinggi Golan. Dari sini , berdasarkan sebuah cerita , nama Damaskus bermula.

Damaskus , ibu kota Suriah , dahulu kala berjulukan Damshak. Dam berarti darah , dan shak berarti terbelah , yang menunjuk pada tanah yang teraliri darah Abil menjadi terbelah. Pada kemudian hari , Damshak menjadi Damishk (dalam bahasa Arab) dan Damaskus (dalam bahasa Inggris). Kaprikornus , jikalau kini darah mengalir di bumi Damaskus (Suriah) , tidak aneh.

Pembunuhan Abil menjadi pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Paus Yohanes Paulus II yang melacak budaya maut hingga ke Kitab Kejadian menyatakan pembunuhan Abil bukan hanya pembunuhan pertama dalam sejarah umat insan , tetapi juga pembunuhan primordial pertama semenjak insan diciptakan.

Setiap pembunuhan , semenjak ketika itu , merupakan sebuah pelanggaran terhadap pertalian keluarga spiritual yang menyatukan umat insan dalam sebuah keluarga besar yang mempunyai kesamaan martabat. Semua umat insan yaitu keturunan Adam dan Hawa. Karena itu , semua orang—terlepas dari apa ras , iman , agama , suku , golongan , budaya , etnik mereka—adalah saudara.

Namun , budaya maut yang diawali oleh Kain begitu besar lengan berkuasa tertanam dalam kehidupan kita kini ini. Istilah ini , budaya maut (lawan dari budaya kehidupan) , mulai biasa dipakai sehabis dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1993.

Pengertian budaya maut ini sangat luas. Namun , secara singkat sanggup dikatakan sebagai budaya yang tidak hanya membolehkan , tetapi bahkan mendorong pengguguran , eutanasia , pembunuhan , eksekusi mati , pembalasan dendam , bunuh diri , perang , kloning insan , sterilisasi insan , dan masih banyak lagi yang menyangkut pada tindakan atau sikap kejahatan , sikap yang tidak mendorong budaya kehidupan.

Apa yang kita saksikan kini ini di Irak , Suriah , Nigeria , Somalia , Yaman , Ukraina , Afganistan , Palestina , dan beberapa cuilan dunia lainnya—tempat kehidupan dan kemanusiaan tidak dihormati , tidak dijunjung tinggi—adalah pola praktik budaya kematian. Hingga April kemudian , paling kurang 31.000 orang tewas di Suriah semenjak pecah perang pada tahun 2011.

Di Suriah dan Irak , kelompok bersenjata NIIS dengan kejam membunuh orang yang tidak sejalan dengan mereka. Di Nigeria , Boko Haram menculik perempuan-perempuan muda , menjual mereka , dan memperlakukan mereka secara tidak manusiawi. Di Somalia , Al-Shabab secara membabi-buta membunuh orang-orang tak berdosa. Di Afganistan dan juga Pakistan , kelompok-kelompok garis keras menebarkan bom serta kematian. Pesawat-pesawat tempur Israel mengebom Gaza.

Dan , darah Abil terus mengalir , mengejar keturunan Kain yang menebarkan kematian.

Trias Kuncahyono; Penulis kolom “Kredensial” Kompas Minggu

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kain Dan Abil"

Total Pageviews