Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Karama

Trias Kuncahyono

Pada mulanya , hanya tiga kata yang diteriakkan oleh ribuan orang yang mengarus ke Tahrir Square di Kairo , Mesir , pada 25 Januari 2011. Ribuan orang itu bergerak masuk ke Tahrir Square (Alun-alun Tahrir) yang menjadi jantung gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Hosni Mubarak.

Mereka masuk Alun-alun Tahrir melewati patung Saad Zaghlul , pemimpin revolusi Mesir pada 1919. Sambil berjalan-bahkan yang sudah berada di Alun-alun Tahrir-mereka terus meneriakkan tiga kata bertuah bagaikan mantra: aish , hurriya , dan karama (roti , kebebasan , dan martabat). Dari sini , massa yang tidak puas terhadap pemerintah bergerak dan pada risikonya mereka menuntut pengunduran diri Mubarak. Mubarak mundur 11 Februari 2011 (Tahrir Square , Jantung Revolusi Mesir , Trias Kuncahyono , 2012).

Empat tahun telah berlalu , ketiga problem tersebut-roti , kebebasan , dan martabat-belum selesai. Memang , kebijakan gres menyangkut sistem subsidi roti yang bertujuan mengurangi konsumsi roti dan korupsi telah membantu orang tidak perlu repot-repot antre roti lagi. Namun , data yang dikeluarkan oleh Capmas , forum statistik pemerintah , memperlihatkan , jumlah orang miskin meningkat. Tahun 2010/2011 , jumlah orang miskin 25 ,2 persen dari 88 juta penduduk negeri itu. Namun , tahun 2012/2013 , jumlah orang miskin naik menjadi 26 ,3 persen.

Kebebasan politik masih tetap merupakan hal yang mahal harganya. Peringatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry , tahun kemudian , ibarat dikutip kantor isu AFP , biar Mesir memperlihatkan kebebasan politik yang lebih besar merupakan salah satu penanda bahwa kebebasan politik belum ibarat yang dibutuhkan para pelopor revolusi. Bahkan , terutama para pendukung Ikhwanul Muslimin , organisasi yang dihentikan pemerintah , ribuan orang ditangkap dan dipenjarakan serta ratusan orang dijatuhi eksekusi mati.

Peristiwa yang terjadi pada 2013 juga memperlihatkan citra perihal kurangnya kebebasan memberikan pendapat. Pada tahun itu , sebanyak 21 wanita , termasuk dewasa berusia 15 tahunan , dijebloskan ke penjara di Alexandria alasannya menentang penyingkiran Mursi.

Sudahkan revolusi Arab Spring mengembalikan karama , martabat bangsa Mesir? Itulah pertanyaan selanjutnya. Pemilu pertama sehabis revolusi dan terpilihnya presiden gres secara demokratis menjadi langkah awal untuk memulihkan martabat bangsa yang beradab tinggi. Namun , langkah militer-didukung rakyat-menyingkirkan presiden terpilih setahun kemudian menimbulkan keraguan.

Penulis buku Inside Egypt:The Land of the Pharaohs on the Brink of a Revolution (2008) , John R Bradley , menyampaikan , rakyat Mesir menyaksikan kurangnya verbal kebebasan di zaman kini. Bahkan , di zaman Hosni Mubarak dan Mursi lebih bebas (Daily News Egypt , 23 Agustus 2014).

Lalu , bagaimana memaknai putusan eksekusi mati terhadap Mursi dan lebih dari 100 orang lainnya dalam konteks karama? Jawaban pertanyaan itu justru pertanyaan: apakah rakyat Mesir merasa karama-yang oleh Johnny West dalam Karama! Journeys Through The Arab Spring diartikan sebagai martabat , kehormatan , atau bahkan hormat terhadap diri sendiri-mereka pulih dengan menghukum mati begitu banyak orang alasannya alasalan politik?

Rakyat Mesir-lah yang berhak menjawab pertanyaan itu.

Trias Kuncahyono; Wartawan Senior Kompas

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Karama"

Total Pageviews