Trias Kuncahyono
Ada pepatah usang yang berbunyi , Roma locuta , causa finita. Pepatah ini diterjemahkan sebagai Roma bicara , perkara selesai. Orang yang pertama kali mengucapkan ujar-ujaran itu yaitu Augustinus (396-430) , teolog dan filsuf besar yang lahir di Hippo , Aljazair. Sebenarnya , ungkapan itu—yang secara bebas diterjemahkan menjadi perkataan pemimpin yaitu sebuah keputusan , tidak ada lagi debat atau diskusi—digunakan untuk melawan pedoman sesat.
Meski demikian , kita kutip pepatah itu untuk menegaskan apa yang dinyatakan Vatikan , Rabu (13/5) lalu. Pada hari itu , Vatikan mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan "Negara Palestina." Penyebutan secara terang "Negara Palestina" mengandung arti bahwa Takhta Suci mengakui eksistensi dan kemerdekaan Negara Palestina. Pengakuan Vatikan mengirimkan pesan kepada bunyi hati semua umat insan bahwa bangsa Palestina berhak memilih dirinya sendiri , memperoleh akreditasi formal , berhak memperoleh kebebasan , dan menjadi negara merdeka. Dengan kata lain , Vatikan mendorong terwujudnya solusi dua negara: Israel dan Palestina.
Apakah dengan demikian problem Palestina selesai alasannya yaitu Roma telah bicara? Tentu saja tidak! Israel tidak suka dengan pernyataan Vatikan itu. Demikian pula AS yang selalu beropini bahwa status negara Palestina harus merupakan hasil dari negosiasi dengan Israel dan bukan dinyatakan oleh negara-negara lain atau institusi internasional.
Meskipun tidak mendadak sontak menuntaskan problem , akreditasi Vatikan itu sangat besar artinya. Tindakan Vatikan ini tidak hanya berarti secara politik dan diplomatik , tetapi mempunyai arti budpekerti dan simbolik. Paus Fransiskus yaitu pemimpin umat Kristen sedunia. Hal itu berarti akreditasi Paus yaitu juga akreditasi seluruh umat yang dipimpinnya: bangsa Palestina mempunyai hak untuk bebas , merdeka , dan berdaulat terlepas dari kekuasaan Israel.
Pengakuan Vatikan juga berarti penegasan bahwa konflik Israel-Palestina bukan konflik agama menyerupai anggapan sementara kalangan selama ini , tetapi konflik kedaulatan; bukan konflik antara Islam dan Kristen , melainkan konflik antara bangsa Israel dan Palestina yang menuntut hak-hak tanahnya yang diserobot , direbut , dikuasai , dan diduduki Israel.
Karena itu , dalam perjanjian dengan Negara Palestina yang disepakati Rabu kemudian , "The Comprehensive Agreement" (penjabaran "The Fundamental Agreement" yang ditandatangani Vatikan dan Palestina pada 2000) , Vatikan berjanji mendukung terwujudnya status khusus Jerusalem yang melindungi tempat-tempat suci bagi Yudaisme , Islam , dan Kristen. Sebaliknya , Palestina berjanji menghormati kebebasan beragama.
Kebebasan beragama sangat penting. Teolog besar Hans Kung menyampaikan , tiada perdamaian dunia kalau tidak ada perdamaian antaragama-agama. Sebab , perdamaian , menyerupai dikatakan Augustinus , yaitu situasi dikala pada risikonya kebenaran akan kemanusiaan sejati dihargai. Perdamaian dengan demikian yaitu hadirnya kehidupan bersama yang serasi di tengah masyarakat yang dikelola menurut prinsip keadilan sehingga tiap pribadi sanggup mewujudkan dambaannya akan kebaikan , baik pribadi maupun bersama.
Sikap Vatikan konsisten: semenjak usang mendukung berdirinya Negara Palestina Merdeka , bahkan sebelum PBB pada November 2012 mengakui status Palestina sebagai non-member observer state , negara pengamat bukan-anggota. Takhta Suci menjalin hubungan diplomatik dengan PLO (organisasi yang dikala itu secara resmi mewakili Palestina) semenjak 26 Oktober 1994 , setahun sesudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Paus Yohanes Paulus II bertemu 12 kali dengan Yasser Arafat. Pertemuan pertama mereka berlangsung pada 15 September 1982 di Vatikan. Paus Benediktus XVI bertemu enam kali dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Tahun 2014 , Paus Fransiskus mengundang Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Shimon Peres untuk berdoa bersama di Vatikan. Mengapa berdoa? Karena doa juga merupakan tindak perdamaian. Perdamaian sejati hanya terwujud kalau semua mengarahkan diri pada kuasa Ilahi. Sebab , perdamaian merupakan sesuatu yang berdimensi spiritual. Perdamaian bukan hanya hasil dari negosiasi , kompromi politik atau ekonomi. Perdamaian bukan hanya hasil dari para perunding , melainkan hasil bersama , termasuk berdoa ,
Dan , sekarang Roma telah bicara: mengakui Negara Palestina , bergabung dengan 135 negara lainnya.
Trias Kuncahyono; Penulis kolom “Kredensial” Kompas Minggu
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Roma Telah Bicara"