Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Ubuntu

Trias Kuncahyono

Bung Karno , bersetelan putih-putih dengan dasi hitam , kopiah hitam , bangun di atas podium. Pandangan matanya tegas menatap bola dunia di depannya. Di belakangnya duduk berjajar , dari kiri—Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India) , U Nu (PM Burma) , Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) , bangku kosong untuk Bung Karno , Ali Sastroamidjojo (PM Indonesia) , John Kotelawala (PM Ceylon) , dan Muhammad Ali Bogra (PM Pakistan). Di belakang mereka berderet 29 negara akseptor Konferensi Asia Afrika 1955.

Saat itu , pukul 10.20 WIB , Bung Karno memberikan pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika , 18 April 1955 , di Gedung Merdeka , Bandung. Pidato bersejarah itu diberi judul Let A New Asia And a New Africa be Born—Marilah Kita Lahirkan Asia dan Afrika Baru. Inilah insiden historis yang mempertemukan dan mempersatukan ideologi gres negara-negara Asia Afrika: nasionalisme , agama , dan kemanusiaan. Ideologi yang ditegakkan oleh negara-negara bekas jajahan di tengah pertarungan kekuatan Barat (kapitalisme) dan Timur (komunisme).

Harian The Christian Science Monitor , koran AS , dikala itu menulis: ”Barat tak diikutsertakan. Tekanannya pada bangsa-bangsa kulit berwarna. Dan , bagi Asia ini berarti bahwa hasilnya martabat Asia ditentukan di Asia , dan bukan di Geneva , atau Paris , atau London , dan Washington. Kolonialisme dibuang dan tak disentuh lagi. Asia bebas. Ini barangkali insiden bersejarah dalam masa kita.”

Dan , pada hari Selasa , 14 April 2015 , di kawasan yang sama—sekarang dijadikan sebagai Museum KAA—Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Pakamisa Augustine Sifuba menyinggung kembali salah satu ideologi yang dipersatukan dalam KAA , 60 tahun silam: kemanusiaan. Semangat kemanusiaan , yang dalam bahasa Afrika Selatan disebut ubuntu.

Ubuntu yakni sebuah term dalam bahasa Nguni Bantu (salah satu bahasa di Afrika Selatan) yang dapat diartikan sebagai ’kebaikan hati manusia’. Secara harfiah , ubuntu berarti ’kemanusiaan’ dan sering diterjemahkan sebagai ’kemanusiaan bagi sesama’. Dalam bahasa Xhosa , salah satu dari 11 bahasa resmi di Afrika Selatan , ada kata-kata bijak yang berbunyi , Umntu ngumntu ngabanye abantu—manusia tumbuh kemanusiaannya alasannya ada insan lain. Saya insan alasannya saya menjadi bab dari komunitas insan dan saya memandang serta memperlakukan orang lain pun demikian.

Dengan demikian , ubuntu yakni prinsip peduli pada setiap ciptaan lain , insan lain dan semangat untuk saling mendukung. Setiap kemanusiaan insan idealnya diungkapkan lewat hubungannya dengan insan lain dan lewat pengakuannya atas insan lain: I Am Because We Are. suara kata-kata bijak dan pepatah Afrika yang menjadi judul film dokumenter wacana bawah umur yatim piatu di Malawi yang ditinggal mati orangtuanya alasannya HIV-AIDS.
                                         
Prinsip menyerupai itulah yang bergotong-royong melandasi KAA , 60 tahun silam , dan yang lalu melahirkan Dasasila Bandung dengan semangat kesamaan. Karena kesamaan , kata Aristoteles , yakni jiwa persahabatan.

Tetapi , jiwa persahabatan itulah yang kini semakin tipis. Tidak perlu di tingkat internasional , di tingkat nasional pun semakin tipis alasannya orang cenderung mementingkan diri dan kelompok atau golongannya sendiri. Konflik dalam segala macam bentuknya muncul di mana-mana. Manusia merupakan serigala bagi sesamanya , demikian kata Thomas Hobbes , yang kini semakin faktual ada di sekitar kita , ada di Timur Tengah , ada di banyak negara Asia dan Afrika , ada di mana-mana.

Trias Kuncahyono; Penulis Kolom “Kredensial” Kompas Minggu

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Ubuntu"

Total Pageviews