Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Kriminalisasikan Bangsa Ini

Radhar Panca Dahana

Negara apa ini? Negara berjulukan Indonesia , daerah saya lahir , hidup , dan akan mati nanti? Negara yang kuputuskan untuk kubela dengan semua pori-pori hidup fisikal , intelektual , sampai spiritualku? Ketika mereka yang menjadi penyelenggaranya , telah membuat ketakutan begitu masif? Ketika perang , intimidasi , intervensi asing , sampai totaliterianisme gaya Soeharto jadi gurauan cengeng bagi kekacauan moral menyerupai ini.

Bagaimana tidak , dikala orang yang tidak tahu atau tunahukum , ternyata harus dihukum-hanya alasannya ialah didakwa mencuri dua balok kayu (yang masih sumir pembuktiannya)-setara dengan koruptor uang rakyat miliaran rupiah?

Padahal , kita tahu , orang tak tahu tidaklah berdosa , tidak bersalah. Padahal , kita paham rakyat kecil yang terbelakang , sangat miskin dan didesak oleh kebutuhan primer , buta abjad dan buta aturan , semua kepapaan yang bersifat sistemik dan struktural , bukanlah obyek hukum. Ataukah aturan itu telah menjadi buta , keji , jauh dari maksud-maksud asalinya yang mulia dan menghamba keadilan insan , keadilan semesta , keadilan ilahiah?

Hukum apa ini , dikala dengan gampang seseorang dicari-cari kesalahannya di sekujur hidup sosialnya hanya untuk mengurung , membungkam , dan menyampaikan kuasa dari penyelenggara negara , yang sepatutnya dan sepatutnya(!) tidak mempunyai posisi jangankan untuk adigang adiguna (sok jago sok kuasa) bahkan sekadar sombong sedikit saja.

Bagaimana tidak? Mari kita bertanya: siapakah yang telah melewati kehidupan sosial sekurangnya dua dekade di negeri ini yang tidak pernah melanggar aturan apa pun? Apa pun? Saya yakin , tak ada. Tidak ada. Kita jangan bicara kasus , tetapi bicara jujur , jujur apakah ada di antara kita yang tak pernah memberi suap (tips apa pun dan berapa pun) kepada petugas kelurahan untuk mengurus surat-surat , polisi untuk tilang , urusan kendaraan atau apa saja? Benarkah kita tak pernah meledek , menghina atau mencemarkan nama baik orang lain? Benarkah kita tidak pernah melanggar rambu atau marka jalan? Atau sekadar memakai kendaraan beroda empat sampai kertas , pulpen atau properti milik negara lainnya untuk manfaat pribadi?

Siapa yang berani menyampaikan dirinya sama sekali tidak pernah melaksanakan satu saja tindakan (dan banyak pola lainnya) yang tergolong pidana itu? Percayalah , jikalau bukan kasus , keajaiban , nabi atau malaikat , sebenarnya Anda , saya , atau kita semua satu bangsa-yang hidup dalam zaman degil ini-dengan ribuan alasan yang kita punya , untuk bertahan hidup atau menunaikan tanggung jawab alamiah kita , niscaya pernah melakukan-sengaja atau tidak , mengerti atau tidak-satu atau lebih tindak pidana itu. Jangan berdusta. Jujurlah pada diri sendiri , kepada Tuhanmu , jikalau kamu percaya.

Kesombongan pegawanegeri negara

Jika sikap penyelenggara negara menyerupai terjadi belakangan ini , orang-orang dan tokoh yang begitu dipercaya oleh rakyat mempunyai integritas walau terperinci tidak tepat (lagipula siapa tepat kecuali-Nya) ternyata begitu gampang dijadikan tersangka , dipenjara , kemudian diadili , dihakimi dan diputuskan bersalah , dijadikan insan yang cacat aturan serta akan mendapat sanksinya sosial , politik , dan ekonomi , sampai ia ke liang lahat. Betapa sombongnya manusia! Membayangkan dirinya menjadi Tuhan kemudian memutus nasib begitu saja. Sombongnya manusia. Seolah insan lain , rakyat , itu buta. Seolah Tuhan tidak bicara. Sombongnya manusia!

Sementara di bab lain , seorang yang sudah menjadi terdakwa bahkan tersangka , tiba-tiba diselamatkan oleh sesama penegak aturan dengan cara melawan atau mengacaukan hukum. Dan kita , rakyat yang tidak oke , protes serta menolak itu semua akan ditekan , tidak oleh senjata , tidak oleh intimidasi , tetapi oleh permainan retorika yang memutarbalik kebenaran atau nama kebebasan memakai media , juga media sosial. Hingga yang salah harus kita biarkan , yang benar justru diragukan.

Apa yang terjadi pada negara ini dikala tersangka yang diselamatkan dengan cara yang melawan aturan itu diselamatkan oleh negara bahkan menjadi pejabat tinggi? Apa yang terjadi pada pemimpin negeri ini , pada Presiden sebagai kuasa tertinggi , dikala semua kata , kebijakan , sampai perintahnya menyerupai beras mentah yang tungku penanaknya dibunuh api pemanasnya? Mengapa rakyat yang telah memilihnya tidak berdaya dikala Presiden pilihannya sendiri dinegasi , dipelintir bahkan dikhianati keputusan-keputusannya.

Benarkah ia benar-benar menentukan bawahan-bawahan yang bukan cuma mbalelo , tetapi bahkan membelokkan semua kebijakannya bukan untuk mencapai impian bangsa sendiri , tetapi-bisa jadi-harapan bangsa lain? Atau sebenarnya ia menentukan dengan terpaksa atau dipaksa untuk memilih? Negara apa ini , alasannya ialah katanya demokrasi sukses menentukan pemimpin , tetapi sang pemimpin tidak bisa memakai kekuatan pemilihnya itu alasannya ialah pertarungan politik telah diambil alih tepatnya dirampas oleh political game and tricking para individu , golongan , dan kekuatan-kekuatan sektarian yang menyerupai selimut mengelililingi istana?

Terus terang , saya bukan lagi cemas , tetapi takut. Takut yang sesungguhnya. Takut kapan pun waktu saya akan dicari kesalahan-kesalahan yuridis saya hanya untuk membunuh eksistensi saya secara sosial , politik , ekonomi sampai kultural. Karena saya sekurangnya bukan orang suci secara yuridis , dalam wilayah aturan formal yang begitu gampang dipelintir bahkan dimanipulasi di depan mata 230 juta lebih rakyat yang diminta menganggapnya supreme! Saya sungguh takut , sistem yang dibela habis-habisan oleh para elite dan para pendukung palsu kelas menengahnya ini , akan membunuh juga eksistensi kita sebagai bangsa , sebagai riwayat yang begitu jago , semenjak ribuan tahun lalu.

Semena-mena

Mengapa sistem ini , termasuk sistem aturan ini , sistem kenegaraan ini , sanggup mengizinkan para penyelenggara negaranya dengan semena-mena memakai kekuasaan yang diamanahkan atau dititipkan padanya untuk membuat represi ke tingkat mental , intelektual sampai spiritual menyerupai ini? Benarkah mereka ialah bab dari bangsa ini? Yang lahir dari Bumi , dibesarkan di Bumi , dihidupi oleh hasil bumi , dan akan dikuburkan di Bumi Pertiwi ini?

Jika benar , mengapa begitu gelapnya mata fisik , mata hati , pikiran , dan batinnya sehingga ia merusak dan menghancurkan negeri , bangsa , serta sejarah yang telah melahirkan nenek moyang anak cucunya? Karena apa , dengan apa , dan untuk apa kegelapan itu tercipta dan diciptakan? Saya tidak punya kata lain untuk membela yang seharusnya , untuk memperjuangkan yang seharusnya , saya menyatakan "Tidak!" untuk semua kedegilan itu.

Saya tahu banyak yang tidak suka dan tidak oke , bahkan murka dengan sikap itu. Namun , saya tahu lebih banyak yang sebaliknya. Mereka yang bisu , tidak berdaya , dan murka hanya dengan hatinya; mereka yang menjadi khalayak , yang menjadi apa yang kita sebut rakyat , yang sejatinya ialah inti bangsa ini.

Karena itu , jikalau mereka , orang-orang banyak yang tidak suka dan benci dengan keadaan ini , yang protes , menolak , dan tidak lagi menghormati para penyelenggara negara , kemudian dianggap sebagai halangan atau gangguan bagi tujuan-tujuan jahat itu , silakan kriminalisasi saja kami , bangsa ini , juga presiden , kiai , dan semua orang suci. Terdakwakan , tersangkakan , hakimi , adili , dan penjarakan kami , dengan atau tanpa ayat dan pasal kitab aturan yang ada. Karena , dipakai atau tidak , sama saja. Kitab hukum-juga politik-itu bukan untuk mencipta keadilan , ketenteraman , dan kesejahteraan , tetapi sekadar mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan dari 0 ,1 permil bangsa ini saja.

Radhar Panca Dahana; Budayawan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kriminalisasikan Bangsa Ini"

Total Pageviews