BUDI RAJAB
Sejak dua dasawarsa kemudian mulai banyak disebut-sebut ihwal keberadaan dan dinamika ekonomi kreatif di kota-kota di Indonesia , ibarat Bandung , Yogyakarta , dan Denpasar , yang juga telah tumbuh tiga dasawarsa kemudian di beberapa kota besar di Asia Timur , Eropa Barat , dan Amerika Serikat.
Ekonomi kreatif ialah kegiatan ekonomi yang berkembang di masyarakat perkotaan yang plural , berbasis pada gagasan , serta ilmu pengetahuan dan teknologi informasi gres yang dituangkan dalam produk- produk yang gres juga , berupa barang-barang (goods) serta metode kerja (services) , yang diintegrasikan pada ekonomi pasar.
Produk-produk ekonomi kreatif cukup beragam. Pertama , heritage , ibarat lisan budaya tradisional , yang mencakup kerajinan-kerajinan artistik , ekspo dan perayaan-perayaan , serta situs-situs budaya yang menyangkut situs-situs arkeologis , museum , perpustakaan , dan pameran-pameran.
Kedua , karya-karya seni , pelengkap , ornamen , ibarat seni visual , yang menyangkut lukisan , patung , goresan , fotografi , barang- barang antik; seni pertunjukan , menyangkut pertunjukan musik , teater , tarian ,opera ,dan sirkus.
Ketiga , media , ibarat penerbitan dan percetakan , audiovisual , yang menyangkut film , televisi , dan radio.
Keempat , kreasi fungsional , ibarat desain interior , grafis , perhiasan , mainan; dan jasa kreatif yang menyangkut arsitektural , periklanan , turisme , makanan , serta penelitian dan pengembangan kreatif.
Produk kreatif selalu bersumber kepada kebudayaan masyarakat. Di dalamnya mengandung komponen-komponen banyak sekali kultural masyarakat yang dicampuradukkan dan kemudian dipembarui. Karena itu , produk- produk ekonomi kreatif disebut juga cultural products (produk- produk budaya) yang bercorak hibrid dan akulturatif.
Keterkaitan produk kreatif dengan aspek kultural terletak pada penonjolan gejala tertentu , apakah pada desain , bentuk , rasa , selera , dan fungsinya yang menunjuk pada kurun dan lokasi kultural yang sedang menjadi sentra perhatian publik. Kebanyakan produk kreatif berafiliasi dengan gejala kultural yang pada waktu tertentu sedang menjadi fokus perhatian masyarakat perkotaan atas selera , bentuk , dan fungsi barang-barang konsumsi.
Bila fokus masyarakat berubah , produk ekonomi kreatif akan ikut berubah. Sebaliknya , kreativitas juga sanggup mengubah fokus perhatian masyarakat. Di sinilah pegiat ekonomi kreatif dituntut oleh perubahan sentra perhatian masyarakat untuk terus menuangkan gagasan-gagasan gres ke dalam produk-produk kultural yang juga baru.
Contoh: Bandung
Secara regional , Jawa Barat , khususnya Kota Bandung , merupakan kota yang dianggap ekonomi kreatifnya tengah berkembang. Untuk tahun 2012 kontribusinya pada produk domestik regional bruto (PDRB) hampir 8 persen atau sekitar Rp 21 triliun dan telah menyerap tenaga kerja sekitar 2 ,75 persen dari jumlah total tenaga kerja. Kontribusi terbesar diberikan bidang desain , fashion , kerajinan , makanan , turisme. Penyumbang terbesar pada PDRB Jawa Barat itu ialah Kota Bandung , melebihi setengahnya.
Lewat bantuan atas PDRB itulah mengapa Kota Bandung dikategorikan sebagai "kota kreatif". Sebutan kota kreatif ini memang sedikit banyak mempunyai kaitan dengan prasyarat bagi keberadaan ekonomi kreatif tersebut. Umpamanya , Kota Bandung dirujuk sebagai kota yang berpenduduk plural yang kosmopolitan; secara historis telah menghasilkan produk-produk seni dan budaya yang bercorak hibrid dan akulturatif (campuran); kemudian banyak perguruan tinggi tinggi yang kuat dan meluasnya penggunaan teknologi informasi dan gadget untuk berkarya , berkomunikasi , atau sekadar untuk hiburan.
Dari hasil pengamatan sementara , mereka yang terlibat dalam ekonomi kreatif di Kota Bandung mencapai ratusan , sekarang mungkin ribuan orang; umumnya berusia relatif muda , 40-an tahun ke bawah; terdiri dari pria dan wanita , meski yang mayoritas laki-laki. Tingkat pendidikan formal mereka tinggi , mengenyam perguruan tinggi tinggi. Jaringan bisnis dan sosial-kultural mereka juga tidak lokal , tetapi nasional dan bahkan ada yang global , yang luasnya jaringan itu diperantarai teknologi informasi , yang memang merupakan salah satu atribut yang menempel pada acara orang-orang kreatif ini.
Akan tetapi , perjuangan bisnis mereka umumnya sanggup digolongkan secara konvensional ke dalam perjuangan kecil dan menengah. Bentuk organisasinya lebih horizontal-egaliter serta posisi dan tugas pekerja dalam perjuangan fleksibel. Artinya , pembagian kerja lebih menekankan kepada fungsi bukan posisi yang kaku , meski mereka mempunyai keahlian yang tinggi. Mereka mengoperasikan model perjuangan ekonomi pasca fordisme (post-fordism) , bercirikan small batch customization (penyesuaian skala kecil) , yakni dari uniformitas dan standardisasi jadi produksi fleksibel dan variatif untuk melayani pasar khusus.
Tentunya pemerintah harus turun tangan untuk terus mendorong semoga ekonomi kreatif di Kota Bandung semakin dinamis dan menjadi referensi masyarakat dan pendapatan pemerintah kota. Di antara syarat-syarat yang diharapkan yang mesti difasilitasi pemerintah kota: infrastruktur jalan dan transportasi untuk kemudahan mengakses produk ekonomi kreatif; penyediaan penggunaan teknologi informasi yang makin meluas; tempat-tempat untuk berkarya dan pameran; dan training mengenai kreativitas , produk-produk kreatif , dan administrasi perjuangan ekonomi.
Bila keperluan prasarana dan sarana itu sanggup disediakan dan diperbaiki , dan mungkin sanggup bekerja sama dengan pengusaha dan masyarakat sipil lain , orang- orang kreatif di Kota Bandung akan bertambah dan menghasilkan produk-produk kultural kreatif yang kian bervariasi.
Budi Rajab; Pengajar Jurusan Antropologi , FISIP Unpad

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Persyaratan Bagi Dinamika Ekonomi Kreatif"