BRE REDANA
Tak terbayangkan Barcelona tanpa Antoni Gaudi. Karya- karya peninggalan arsitek besar yang tersebar di seluruh kota itulah yang menyebabkan Barcelona berbeda dibandingkan kota-kota lain di Eropa. Tidak mampu menemukan superlatif untuk menggambarkan kebesaran Gaudi. Melihat karya-karyanya , antara lain Sagrada Familia , menjadi optimistis bahwa media cetak tidak akan pernah mati oleh desakan media digital.
Apa relasi arsitektur dengan media cetak?
Pertanyaan di atas pernah dilontarkan Victor Hugo lewat lisan tokoh dalam novelnya , The Hunchback of Notre-Dame. Dengan temuan buku pada zamannya , akankah intelek insan bakal meninggalkan arsitektur? Maksudnya kira-kira , bila ada media yang lebih praktis , yakni kertas , tinta , pena , mengapa harus bersusah payah menumpuk-numpuk watu menjadi katedral? Ini soal ekspresi kepercayaan. Katedral ialah ”kitab suci dari batu”.
Ternyata , relasi insan dengan ruang tak bisa digantikan dengan gagasan belaka. Arsitektur menyebabkan ruang sebagai hal konkret. Pada era modern di simpulan era ke-19/awal era ke-20 , Gaudi membangun Sagrada Familia. Sampai kini , setiap hari ribuan turis mengagumi gereja yang menakjubkan ini: wujud gagasan modernisme untuk memuliakan Ilahi.
Gaudi tidak hanya membangun penanda sentra kota berjulukan Sagrada Familia. Ia membangun rumah-rumah langsung , taman , ruang publik , dan lain-lain. Rumah langsung paling mengesankan ialah Casa Batllo , yang kini dibuka untuk umum. Banyak yang menyebut , puncak kematangan Gaudi terwujud pada Casa Batllo.
Di situ bisa dianggap terjawab teka-teki yang diajukan Hugo. Arsitektur tidak merana ditinggalkan perkembangan teks. Intensitas dan krida fisik dalam penciptaan karya arsitektur tak bisa digantikan hanya dengan otak-atik teks. Proses yang menuntut totalitas ekspresi diri , dari gagasan , krida fisik , hingga spiritualitas , telah melahirkan produk yang tahan terhadap gerusan zaman. Makin hari , karya Gaudi , ibarat Candi Prambanan , bahkan tampak makin indah dan terlihat superioritasnya.
Karena apa? Karena intensitas penciptaan dan dimensi spiritualitas tadi. Teks , buku , media cetak kiranya akan mengalami perkembangan sama ibarat mereka. Dunia virtual dari teknologi digital tak akan bisa menggantikan sesuatu yang positif , berdarah-daging , apalagi bila di situ terdapat dimensi spiritualitas.
Beruntung menerima permintaan dari pelukis kontemporer asal Irlandia , Sean Scully. Ia mengadakan jamuan makan malam untuk kalangan terbatas di Casa Batllo pekan lalu. Selain di Barcelona , Scully mempunyai beberapa studio , termasuk di New York dan Muenchen.
Tertarik pada Zen , mengenai tempat berkarya dan tempat tinggal yang ada di mana-mana ia berujar , justru alasannya di mana-mana ia merasa tidak di mana-mana. Kadang keterpautannya dengan suatu tempat terjadi begitu saja.
Dengan Barcelona ia mempunyai relasi emosional cukup mendalam alasannya persahabatannya dengan seorang padri dari sebuah gereja bau tanah di Montserrat. Montserrat sendiri kawasan luar biasa indah , berbukit-bukit di ketinggian sekitar 1.250 meter di atas permukaan laut. Hawanya panas dan kering. Menjadi ingat soprano Montserrat Caballe , yang dulu suaranya pernah dipuji oleh vokalis Queen , Freddie Mercury , sebagai terbaik di dunia.
Di Montserrat , Scully membantu sang padri sahabatnya , merestorasi gereja yang manis peninggalan era ke-10 , gereja Santa Cecilia. Inilah sebuah proyek yang coba menyatukan kedalaman spiritualitas , peninggalan sejarah , dan semangat modernisme. Hasilnya: Santa Cecilia bisa menjadi referensi di dunia sebagai produk pertemuan antara agama—dalam hal ini Katolik—dengan semangat modernisme , semangat seni avant garde.
Ah , di depan altar gereja Santa Cecilia jadi ingin berlutut sembari mengucap: dalam modernisme kumuliakan nama-Mu.
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Barcelona-Montserrat"